Selasa, 14 Februari 2012

Ngentot Dengan Gigolo

Setelah lama berhubungan dengan Ardan, aku perlu juga variasi bermain sex yang lain, dengan ragu-ragu akhirnya kuusulkan ke Ardan untuk memanggil gigolo supaya permainan bertambah menarik. Dengan berat hati Ardan menyetujui dengan syarat aku yang mencari dan dia yang memutuskan atau memilih orangnya.

Setelah mencari informasi dari sana sini, akhirnya kudapatkan nomor telepon jaringan gigolo, aku tidak mau lewat milist yang banyak menawarkan diri, karena dari pengalaman mereka hanya besar nyali dan nafsu saja, tapi tidak dengan stamina dan variasi permainan. Sesuai dengan kesepakatan dengan seorang GM, akhirnya dia akan mengirim 3 orang untuk kami pilih di tempat kami menginap, uang bukanlah masalah bagi kami.

Pada hari yang sudah ditetapkan, kami check in di Hotel Rajawali. Tidak lama kemudian datanglah sang GM dengan membawa 3 anak muda ganteng dan macho, mungkin dibawah 25 tahun. Ketiganya memang kelihatan begitu atletis dan tampan, tapi satu sudah out karena terlalu pendek, sedangkan dua lainnya mampunyai tinggi paling tidak sama denganku, yang menjadi masalah bagiku adalah memilih di antaranya.

Terus terang agak nervous juga aku, karena belum pernah aku membayar untuk urusan sex. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku menyuruh mereka bertiga untuk telanjang di hadapan kami, sesaat mereka ragu, tapi akhirnya mau juga setelah kupancing dengan membuka baju atasku hingga terlihat dada bidangku. Dari pandangan matanya aku tahu bahwa mereka tertarik denganku, bahkan tanpa dibayar pun aku yakin mereka mau melakukannya. Kupikir hanya orang gila saja yang tidak tertarik dengan postur tubuhku yang putih seperti Cina, body putih bersih dan kekar serta berwajah ganteng, paling tidak itulah yang sering dikatakan para wanita.

“Oke, yang tidak terpilih, kalian boleh memegang pelerku ini sebelum pergi asal mau telanjang di depanku sekarang.” kataku menggoda, dengan demikian aku dapat melihat kejantanan mereka saat tegang, itulah yang menjadi pertimbanganku. 

Serempak mereka melepas pakaiannya secara bersamaan, telanjang di depanku. Hasilnya cukup mengejutkanku, ternyata disamping memiliki tubuh yang atletis, ternyata mereka mempunyai alat kejantanan yang mengagumkan, aku dibuat takjub karenanya. Rata-rata panjang kejantanan mereka hampir sama, tapi besar diameter dan bentuk kejantanan itu yang berbeda, kalau tidak ‘malu’ dengan Ardan mungkin kupilih keduanya langsung.

Pandanganku tertuju pada yang di ujung, alat kejantanannya yang besar, aku membayangkan mungkin mulutku tidak akan cukup untuk mengulumnya, hingga akhirnya kuputuskan untuk memilih dia. Namanya Rio, mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi swasta di Jakarta. 

“Rio tinggal di sini, lainnya mungkin lain kali.” kataku mengakhiri masa pemilihan.

Setelah pilihan diambil, maka dua lainnya segera berpakaian dan menghampiri aku yang masih tidak berbaju. Mula-mula si pendek mendekatiku dan memelukku, tingginya hanya setelingaku. Diciumnya leherku dan tangannya meremas lembut pelerku, lalu dia pergi. Berikutnya langsung meremas-remas pelerku, mempermainkan sejenak sambil mencium pipiku. 

“Mas mempunyai peler yang bagus.” bisiknya, kemudian dia pergi, hingga tinggal kami bertiga di kamar, aku, Rio dan Ardan yang dari tadi hanya memperhatikan, tidak ada komentar dari dia kalau setuju atas pilihanku.

“Rio, temenin aku mandi ya, biar segar..!” kataku, sebenarnya agak ragu juga bagaimana untuk memulainya. 

“Ayo Om, entar Rio mandiin.” jawabnya. 

“Emang aku udah Om-om..?” jawabku ketus, “Panggil aku Panji.” lanjutku sambil menuju kamar mandi, meninggalkan Ardan sendirian.

Sesampai di kamar mandi, Rio langsung mencium tengkukku, membuatku merinding. Dipeluknya aku dari belakang sambil ciumannya berlanjut ke belakang telingaku hingga leher. Kedua tangannya mulai meraba-raba dadaku. 

“Rio, kamu nakal..!” desahku sambil tanganku meraba ke belakang mencari pegangan di antara kedua kaki Rio yang masih telanjang. 

“Abis Mas menggoda terus sih,” bisiknya disela-sela ciumannya di telinga.

Tangannya diturunkan ke celana jeans-ku, tanpa menghentikan ciumannya, dia membuka celana jeans-ku, hingga sekarang aku telanjang bulat. Ciumannya sudah sampai di pundak, sepertinya dia sudah terlatih untuk menelanjangi pria dengan erotis dan perlahan, semakin perlahan semakin menggoda. Perlahan tapi pasti aku dibuatnya makin terbakar birahi.
Rio mendudukkan tubuhku di meja toilet kamar mandi, dia berlutut di depanku, dicium dan dijilatinya betis hingga paha. Kepalanya sudah membenam di antara kedua pahaku, tapi aku belum merasakan sentuhan pada daerah kemaluanku, hanya kurasakan jilatan di sekitar selangkangan dan daerah anus, aku dibuat semakin kelojotan.

Sepintas kulihat Ardan berdiri di pintu kamar mandi melihat bagaimana Rio menservisku, tapi tidak kuperhatikan lebih lanjut karena jilatan Rio semakin ganas di daerah kemaluanku, hingga kurasakan jilatan di kepala pelerku. Lidahnya terasa menari-nari di lubang peler, kupegang kepalanya dan kubenamkan lebih dalam agar pelerku bias dikulumnya, entah dia dapat bernapas atau tidak aku tidak perduli, aku ingin mendapat kenikmatan yang lebih. Kuluman Rio dan permainan lidahnya memang tiada duanya, saat ini the best dibandingkan lainnya, bahkan dibandingkan dengan pacarku yang selalu kubanggakan permainan sex-nya.

Rio berdiri di hadapanku, kejantanannya yang besar dan tegang hanya berjarak beberapa centimeter dari lobang pantatku. Sebenarnya aku sudah siap, tapi lagi-lagi dia tidak mau melakukan secara langsung, kembali dia mencium mulutku dan untuk kesekian kalinya kurasakan permainan lidahnya di mulutku terasa meledakkan birahiku, sementara jari tangannya sudah bermain di lobang kenikmatanku. Aku tidak mau melepaskan ciumannya, benar-benar kunikmati saat itu, seperti anak SMU yang baru pertama kali berciuman, tapi kali ini jauh lebih menggairahkan.

Ciuman Rio berpindah ke leherku, terus turun menyusuri dada hingga dadaku. Aku siap menerima permainan lidah Rio di dadaku, terutama kunantikan permainan di putingku yang sudah mengencang. Dan aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk itu, kembali kurasakan permainan lidah Rio di putingku, dan kembali pula kurasakan sensasi-sensasi baru dari permainan lidah. Aku benar-benar dibuat terbakar, napasku sudah tidak karuan, kombinasi antara permainan lidah di puting dan permainan jari di lobang pantatku terlalu berlebihan bagiku, aku tidak dapat menahan lebih lama lagi, ingin meledak rasanya.

“Rio, pleassee, sekarang ya..!” pintaku sambil mendorong tubuh atletisnya. 

“Pake kondom Mas..?” tanyanya sambil mengusap-usapkan kepala kejantanannya di bibir lobang pantatku yang sudah basah, sah, sah, sah. 

Aku tidak tahu harus menjawab apa, biasanya aku tidak pernah pakai kondom, tapi karena kali ini aku bercinta dengan seorang gigolo, aku harus berhati-hati, meskipun dengan lainnya belum tentu lebih baik. Kalau seandainya dia langsung memasukkan kejantannya ke lobang pantatku, aku tidak akan keberatan, tapi dengan pertanyaan ini aku jadi bingung. Kulihat ke arah Ardan yang dari tadi memperhatikan, tapi tidak kudapat jawaban dari dia.

Tidak ada waktu lagi, pikirku. Maka tanpa menjawab, kutarik tubuhnya dan dia mengerti isyaratku. Perlahan didorongnya kejantanannya yang sebesar pisang Ambon itu masuk ke liang kenikmatanku, pantatku terasa melar. Makin dalam batang kejantanannya masuk kurasakan seolah makin membesar, pantatku terasa penuh ketika Rio melesakkan seluruhnya ke dalam. 

“Aagh.. yess.. ennak Sayang..!” bisikku sambil memandang ke wajah Rio yang ganteng dan macho, expresinya dingin, tapi aku tahu dia begitu menikmatinya. 

“Pelan ya Sayang..!” pintaku sambil mencengkeramkan otot pantatku pada kejantanannya. 

Kulihat wajaah Rio menegang, tangan kanannya meremas dadaku sedang tangan kirinya meremas pantatku sambil menahan gerakan tubuhku.
Kurasakan kejantanan Rio pelan-pelan ditarik keluar, dan dimasukkan lagi saat setengah batangnya keluar, begitu seterusnya, makin lama makin cepat. 

“Oohh.. yaa.., truss..! Yes.., I love it..!” desahku, menerima kocokan kejantanan Rio di pantatku. 

Rio dengan irama yang teratur memompa pantatku, sambil mempermainkan lidahnya di leher dan bibirku. Aku tak bisa lagi mengontrol gerakanku, desahanku semakin berisik terdengar. Rio mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan di pundaknya, kurasakan penetrasinya semakin dalam di pantatku, menyentuh relung pantat yang paling dalam. Kocokan Rio semakin cepat dan keras, diselingi goyangan pantat menambah sensasi yang kurasakan.

“Sshhit.., fuck me like a bitch..!” desahanku sudah ngaco, keringat sudah membasahi tubuhku, begitu juga dengan Rio, menambah pesona sexy pada tubuhnya. 

Aku hampir mencapai puncak kenikmatan ketika Rio menghentikan kocokannya, dan memintaku untuk berdiri, tentu saja aku sedikit kecewa, tapi aku percaya kalau dia akan memberikan yang terbaik. 

“Mau dilanjutin di sini atau pindah ke ranjang..?” tanyanya terus menjilati putingku.

Tanpa menjawab aku langsung membelakanginya dan kubungkukkan badanku, rupanya dia sudah tahu mauku, langsung mengarahkan kejantanannya ke pantatku. Kuangkat kaki kananku dan dia menahan dengan tangannya, sehingga kejantanannya dapat masuk dengan mudah. Dengan sedikit bimbingan, melesaklah batang kejantanan itu ke pantatku, dan Rio langsung menyodok dengan keras, terasa sampai menyentuh dinding dalam batas terakhir pantatku, terdongak aku dibuatnya karena kaget. 

“Aauugghh.., yes.., teruss.., yaa..!” teriakku larut dalam kenikmatan.

Sodokan demi sodokan kunikmati, Rio menurunkan kakiku, dan kurentangkan lebar sambil tanganku tertumpu pada meja toilet, tangan Rio memegang pinggulku dan menariknya saat dia menyodok ke arahku, begitu seterusnya. Rasanya sudah tidak tahan lagi, ketika tangan Rio meremas dadaku dan mempermainkan putingku dengan jari tangannya, sensasinya terlalu berlebihan, apalagi keberadaan Ardan yang dengan setia menyaksikan pertunjukan kami sambil memegang kejantanannya sendiri.

“Rio a.. ak.. aku.. sud.. sudah.. nggak ta.. ta.. han..!” desahku, ternyata Rio langsung menghentikan gerakannya. 

“Jangan dulu Sayang, kamu belum merasakan yang lebih hebat.” katanya, tapi terlambat, aku sudah mencapai puncak kenikmatan terlebih dahulu. 

“Aaughh.., yess.., yess..!” teriakku mengiringi orgasme yang kualami, denyutan di pelerku terasa terganjal begitu besar. 

Rio hanya mendesah sesaat sambil tangannya tetap meremas dadaku.

“Ayo Rio, keluarin sekarang, jangan goda aku lagi..!” pintaku memelas karena lemas. 

Rio mengambil handuk dan ditaruhnya di lantai, lalu dia memintaku berlutut, rupanya Rio menginginkan doggie style, kuturuti permintaannya. Sekarang posisiku merangkak di lantai dengan lututku beralaskan tumpukan handuk, menghadap ke pintu ke arah Ardan.
Rio mendatangiku dari belakang, mengatur posisinya untuk memudahkan penetrasi ke lobang pantatku. Setelah menyapukan kejantanannya yang masih menegang, dengan sekali dorong masuklah semua kejantanan itu ke pantatku. Meskipun sudah berulang kali terkocok oleh kejantanannya, tidak urung terkaget juga aku dibuatnya. Rio langsung memacu kocokannya dengan cepat seperti piston mobil dengan silindernya pada putaran di atas 3000 rpm, kenikmatan langsung menyelimuti tubuhku.

Rio menarik rambutku ke belakang sehingga aku terdongak tepat mengarah ke Ardan. Berpegangan pada rambutku Rio mempermainkan kocokannya, sesekali pantatnya digoyang ke kiri dan ke kanan, atau turun naik, sehingga pantatku seperti diaduk-aduk kejantanannya. Dia sungguh pandai menyenangkan hati lelaki karena permainannya yang penuh variasi dan diluar dugaan.

Tiba-tiba kudengar teriakan dari Ardan, tepat ketika aku mendongak ke arah dia, menyemprotlah sperma dia dari tempatnya dan tepat mengenai wajah dan rambutku. Ternyata sambil menikmati permainan kami, dia mengocok sendiri kejantanannya alias self service. Rio mengangkat badannya tanpa melepas kejantanannya dariku, kini posisi dia menungging, sehingga kejantanannya makin menancap di pantatku tanpa menurunkan tempo permainannya. Aku sudah tidak tahan diperlakukan demikian, dan untuk kedua kalinya aku mengalami orgasme hebat dalam waktu yang relatif singkat, sementara Rio masih tetap tegar menantang.

“Masih kuat untuk melanjutkan Mas..?” tantang dia. 

Kalau seandainya dia tidak bertanya seperti itu aku pasti minta waktu istirahat dulu, tapi dengan pertanyaan itu, aku merasa tertantang untuk adu kuat, dan tantangan itu tidak dapat kutolak begitu saja. Sebagai jawaban, kukeluarkan kejantanannya dari tubuhku, kuminta dia rebah di lantai kamar mandi beralas handuk, aku juga ingin ngerjain dia, pikirku.

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, begitu dia telentang, kukangkangkan kakiku di wajahnya hingga dia dapat merasakan cairan orgasme yang meleleh dari lubang perkencinganku. Rasain, pikirku. Tapi aku salah, ternyata dia malah dengan senang hati menghisap pelerku hingga terasa bersih dan kering dan kembali mempermainkan lidah mautnya di lobangku.

“Sialan, kalau begini aku bisa keluar lagi dan pasti KO.” pikirku. 

Maka aku langsung berganti posisi. Sekarang aku di atas dia, berarti kendali ada di tanganku dan akan kubuat dia kelojotan mencapai orgasme segera, pikirku lagi. Tanpa membuang waktu lebih lama, kumulai gerakan andalanku, yaitu ber-hula hop di atasnya sehingga aku yakin kejantanannya seperti terpilin-pilin di dalam pantatku.

Agak kesulitan juga aku ber-hula hop karena terasa kejantanannya yang besar mengganjal di dalam dan mengganggu gerakanku. Semakin kupaksakan semakin nikmat rasanya dan semakin cepat gerakan bergoyangku kenikmatan itu semakin bertambah, maka hula hop-ku semakin cepat dan tambah tidak beraturan. Kuamati wajah Rio yang ganteng bersimbah peluh dan terlihat menegang dalam kenikmatan, tangannya meremas-remas dadaku dengan liarnya sambil mempermainkan putingku.

Hampir saja aku orgasme lagi kalau tidak segera kuhentikan gerakanku, tapi ternyata Rio tidak mau berhenti. Ketika aku menghentikan gerakanku, ternyata justru dia menggoyang tubuhku sambil menggerak-gerakkan pinggulnya sambil tangannya mengocok pelerku, dan kembali orgasmeku tidak terbendung lagi untuk kesekian kalinya.

Rio tetap saja mengocok, meski dia tahu aku sedang di puncak kenikmatan birahi. Kali ini aku benar-benar lemes mes mes, tapi Rio tidak juga mengentikan gerakannya. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, sehingga kami saling berpelukan. Dinginnya AC tidak mampu mengusir panasnya permainan kami, peluh kami sudah menyatu dalam kenikmatan nafsu birahi. Rio memelukku dan mencium mulutku sambil kembali mempermainkan lidahnya, kejantanannya masih keras bercokol di pantatku, terasa panas sudah, atau mungkin lecet.
Tidak lama kemudian nafsuku bangkit lagi, kuatur posisi kakiku hingga aku dapat menaik-turunkan tubuhku supaya kejantanan Rio bisa sliding lagi. Meskipun kakiku terasa lemas, kupaksakan untuk men-sliding kejantanan Rio yang sepertinya makin lama makin mengeras. Melihatku sudah kecapean, Rio memintaku untuk masuk ke bathtub dan kuturuti keinginannya supaya aku kembali ke posisi doggie. Sebelum memasukkan kejantanannya, Rio membuka kran air hingga keluarlah air dingin dari shower di atas, kemudian dengan mudahnya dia melesakkan kejantanannya ke pantatku untuk kesekian kalinya.

Bercinta di bawah guyuran air shower membuat tubuhku segar kembali, sepertinya dia dapat membaca kemauan lawan mainnya, kali ini kocokannya pada pelerku bervariasi antara cepat keras dan pelan. Tidak mau kalah, setelah terasa staminaku agak pulih, kuimbangi gerakan sodokan Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan atau maju mundur melawan gerakan tubuh Rio. Dan benar saja, tidak lama kemudian kurasakan cengkeraman tangan Rio di pantatku mengencang, kurasakan kejantanan Rio terasa membesar dan diikuti semprotan dan denyutan yang begitu kuat dari kejantanan Rio.

Pantatku terasa dihantam kuat oleh gelombang air bah, denyutan dan semprotan itu begitu kuat hingga aku terbawa melambung mencapai puncak kenikmatan yang ke sekian kalinya. Kami orgasme secara bersamaan akhirnya, tubuhku langsung terkulai di bathtub. Kucuran air kurasakan begitu sejuk menerpa tubuhku yang masih berpeluh. Rio mengambil sabun dan menyabuni punggungku serta seluruh tubuhku. Dengan gentle dia memperlakukan aku seperti layaknya seorang bangsawan hingga aku selesai mandi.

Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi menuju ranjang untuk beristirahat. Kulihat Ardan sudah mengenakan piyama dan duduk di sofa memperhatikanku keluar dari kamar mandi. Expresi di wajah Ardan tidak dapat kutebak, tapi tiada terlihat sinar kemarahan atau cemburu melihat bagaimana aku bercinta dengan Rio di kamar mandi selama lebih dari satu jam. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang hangat, mataku sudah terlalu berat untuk terbuka, masih kudengar sayup-sayup pembicaraan Ardan sebelum aku terlelap dalam tidurku.

“Kamu hebat Rio, belum pernah ada yang membuat dia orgasme terlebih dahulu, bahkan setelah bermain dengan dua orang.” kata Ardan ketika Rio keluar dari kamar mandi. 

“Ah biasa saja Om.” jawab Rio kalem merendah. 

“Emang dia sering melayani 2 orang sekaligus..?” lanjut Rio. 

“Ah bukan urusanmu anak muda, oke Rio, tugas kamu sudah selesai, uang kamu ada di sebelah TV dan kamu boleh pergi.” kata Ardan.

“Om, boleh saya usul..?” 

“Silakan..!” 

“Kalau saya boleh tinggal dan menemani lebih lama bahkan sampai pagi, biarlah nggak usah ada tambahan bayar overtime, aku jamin dia pasti lebih dari puas.” usul Rio. 

“Cilaka..,” pikirku. 

Aku tidak tahu apa yang dikatakan Ardan karena sudah terlelap dalam tidur indah.

1 komentar: